Nuba Ikan Tradisi Yang Masih Lestari

redaksiMarch 26, 20184min640
Norhayati Andris Anggota DPRD Provinsi Kalimantan Utara
TANJUNG SELOR – Tumbuhan Tuba adalah sejenis tumbuhan perdu yang akarnya sering dimanfaatkan oleh penduduk asli Kalimantan Utara untuk meracun ikan yang berada disungai. Racun Tuba ini sifatnya tidak membunuh, melainkan hanya melumpuhkan ikan sementara waktu saja, sehingga ikan-ikan tetap bisa dilestarikan.

Sayangnya tidak semua masyarakat dibeberapa daerah di Kaltara yang bisa memanfaatkan racun tuba tersebut, lantaran telah terjadi kerusakan alam yang cukup signifikan sehingga berpengaruh terhadap biota sungai yang ada. Karena ekploitasi alam seecara sporadis yang mengakibatkan musnahnya hutan dan penambangan mineral hampir merata di pedalaman Kalimantan Utara sejak beberapa tahun terakhit.

Menurut Norhayati Andries, Ketua Komisi 1 DPRD Kalimantan Utara menyebutkan, dikalangan Suku Dayak Kenyah, Nuba atau menangkap ikan dengan cara menabur racun akar tuba tersebut merupakan acara tradisional mereka. Yang di lakukan setiap akhir masa panen untuk mencari lauk pauk khususnya untuk menghadapi persiapan pesta panen tersebut.

Acara Nuba ini ini juga sudah di lakukan sejak turun temurun walaupun ini kurang relevan dengan kondisi sekarang tapi ini adalah adat istiadat yang perlu di lestarikan.

“Sekedar diketahui, Tuba itu sendiri berasal dari akar tumbuhan yang di hancurkan sampai halus. Lalu di peras airnya dan di tampung dalam perahu masyarakat sehingga mencapai puluhan perahu yang harus di isi air tuba untuk di tenggelamkan ke air sungai, “ tukas Norhayati.

Ati sapaan akrab politisi PDIP Kaltara ini juga menambahkan, dampak dari rendaman air akar Tuba itu membuat ikan-ikan yang ada didasa sungai spontanitas mabuk dan timbul ke permukaan air. Disaat ikan itu timbul masyarakat memperebutkan ikan tersebut. Sehingga seketika membuat Susana riang gembira.

Untuk diketahui, acara Nuba ini juga merupakan ajang tradisi silaturahim seluruh warga yang desanya berdekatan.

“Untuk persiapannya di haruskan peserta tidur dan bermalam di lokasi sungai yang akan di Tuba. Dimana suasana malam tumbuk tuba ini mirip seperti pasar malam. Para pemuda pemudi dan peserta wajib ikut tumbuk tuba itu.

Sedangkan para ibu-ibu kebagian membuat bekal untuk acara besok, khususnya untuk Keluarga masing-masing. Dan untuk menangkap ikan yang ada juga ada tata acara nya, ada aturan main dan pantangan yang harus ditaati oleh peserta, salah satunya tidak boleh menimpas ikan didalam sungai.

“Untuk acara Nuba kita laksanakan di Sungai Berun, yang diikuti oleh seluruh lapisan masyarakat ditiga desa, masing-masing Warga Desa Long Telenjau, Longbang Hulu dan Longbang Hilir, kata Norhayati.
Adapun jumlah peserta sekitar lebih kurang 500 orang, dengan armada perahu sekitar 300 buah.

“Saya berharap acara Nuba ini bisa dilestarikan dan menjadi kalender tetap bagi warga masyarakat disana, “ pungkas Norhayati Andries. *

wa2n.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *