Suara Pembangunan

PLTA Dukungan Utama Investasi di Kaltara

0

TARAKAN – Menteri Perencanaan Pembangunan Nasional / Badan Perencanaan Pembangunan Nasional (PPN/Bappenas), Bambang Brodjonegoro mengatakan, pembangunan Pembangkit Listrik Tenaga Air (PLTA) yang menjadi program utama Pemerintah Provinsi (Pemprov) Kaltara, bisa menjadi penentu masa depan provinsi termuda di tanah air ini.

Jika PLTA terbangun dengan menghasilkan daya listrik ribuan megawatt, kata Bambang, akan mendukung sektor industri. Apalagi industri pengolahan yang membutuhkan listrik lumayan besar. “Saya menerima informasi, kalau Kaltara tengah menjalankan rencana pengembangan ketenagalistrikan PLTA (Pembangkit Listrik Tenaga Air). Ini sedianya, jika terealisasi mampu mendukung percepatan pertumbuhan ekonomi. Sebagaimana yang tengah difokuskan oleh Pemerintah Indonesia saat ini,” ungkap Bambang.

Melihat kondisi Kaltara saat ini, Bambang menyarankan agar Kaltara mulai berpikir tidak hanya mengandalkan sumber daya alam. Namun lebih pada pengembangan industri pengolahan. “Kaltara harus bisa mengembangkan industri pengolahan berbasis sumber daya alam, seperti pertanian dan hasil tambang. Seperti salah satunya smelter,” ujarnya.

Meski begitu industri pengolahan seperti sawit, kayu dan tambang juga tetap dibutuhkan. “Dan semua itu, saya yakin mampu berkembang pesat, dengan dukungan rencananya pengembangan ketenagalistrikan di Kaltara yang informasinya tengah berproses,” lanjut Bambang.

Pengembangan ketenagalistrikan lewat pemanfaatan potensi sumber daya listrik terbarukan di Kaltara tersebut, menurut Bambang, menjadi salah satu faktor penentu masuknya investasi di Kaltara. “Harus diakui, tidak mudah mendatangkan investasi ke Kaltara. Selain daerah baru, Kaltara juga masih terbatas dukungan infrastruktur dan suprastrukturnya, sehingga butuh akselerasi dan strategi yang tepat untuk memancing masuknya investasi,” papar Bambang.

Ketersediaan pasokan listrik yang memadai juga dibutuhkan untuk menciptakan “pemanis” untuk mendatangkan investor. Seperti keberadaan kawasan industri dan lainnya. “Kaltara harus memiliki strategi “langsung lompat” guna membenahi sejumlah kebutuhan strategis pertumbuhan ekonomi lewat masuknya investasi,” jelas Bambang.

Kaltara menurut menteri PPN, patut pula memperbaiki konektivitas antar daerah. Ini berkaitan dengan kesinambungan suplai logistik ke setiap daerah di Kaltara. “Selain ketersediaan listrik, untuk mendatangkan orang berinvestasi di Kaltara, konektivitas perlu dibenahi serta perlu adanya upaya strategis menjaga pertumbuhan ekonomi. Nah, seperti saya sampaikan tadi, mengembangkan industri pengolahan berbasis sumber daya alam,” urai Bambang.

Dalam kesempatan itu, Menteri PPN mengimbau kepada Pemerintah Provinsi Kalimantan Utara (Pemprov Kaltara) untuk mendukung pertumbuhan ekonomi nasional 5,46 persen. Untuk itu, Kaltara diminta mampu meningkatkan persentase pertumbuhan ekonominya, minimal 3,98 persen hingga 4,19 persen.

Menteri optimis upaya pertumbuhan ekonomi itu dapat dicapai Kaltara. Mengingat, Kaltara didukung dengan potensi sumber daya alam yang memadai pada sejumlah sektor ekonomis. Seperti, sektor pertambangan, pertanian, kehutanan dan perikanan. “Ada enam faktor utama penyumbang terbesar pertumbuhan ekonomi dan pembangunan di Indonesia. Di antaranya, industri pengolahan dan sektor non migas (Minyak dan gas bumi) seperti pertanian, perdagangan, dan informasi-komunikasi,” kata Bambang. (humas)

print