Suara Pembangunan

PLTA Kunci Utama Realisasi Industri Smelter

0

POTENSI ketersediaan energi listrik di Kaltara yang sangat mumpuni, menjadi alasan utama PT Indonesia Asahan Aluminium atau Inalum (Persero) tertarik membangun industri hilir atau smelter alumina di provinsi termuda ini. Apalagi, terkait dengan rencana Pemerintah Provinsi (Pemprov) Kaltara membangun Pembangkit Listrik Tenaga Air (PLTA) dengan memanfaatkan keberadaan sungai di Kaltara.
Di sela penandatanganan nota kesapahaman atau MoU dengan Inalam, Gubernur Kaltara Dr H Irianto Lambrie mengatakan, potensi energy listrik di Kaltara sangat besar. Jika seluruh sungai di Kaltara dimanfaatkan untuk PLTA, maka daya listrik yang dihasilkan bisa mencapai 20 ribu Megawatt (MW). Dengan sumbangan daya terbesar adalah PLTA Sungai Kayan, yaitu sekitar 9 ribu MW.
“Ketersediaan pasokan energi listrik yang memadai dan handal, menjadi syarat mutlak akan kesuksesan dan kesinambungan berbagai hal yang diperlukan untuk kemajuan sebuah daerah. Kaltara sendiri, memfokuskan diri untuk mengembangkan sektor energi, industri dan infrastruktur lainnya sebagai pendukung utama pengembangan kedua sektor itu,” tegas Irianto.
Gubernur meyakinkan bahwa Kaltara sangat potensial menjadi penyedia listrik bagi Indonesia bahkan Asia, utamanya Malaysia, Brunei Darussalam, bahkan Filipina Selatan. “PLTA Kayan itu, sudah groundbreaking pada 18 Januari 2014 dengan investor yang menanamkan modalnya PT KHE (Kayan Hydro Energy) dari Republik Rakyat Tiongkok (RRT). Dan kami akan mendesak PT KHE untuk segera membangun PLTA Kayan,” jelas Gubernur.
Irianto menegaskan, pihaknya terus mendorong agar investor tersebut bisa secepatnya merealisaikan pembangunan PLTA Kayan. Apalagi, setelah tenaga nuklir, PLTA merupakan penyedia tenaga listrik yang murah dan efisien serta ramah lingkungan. “Memang butuh waktu setidaknya 15 hingga 20 tahun agar terasa manfaat PLTA Kayan secara maksimal. Bahkan, untuk membangun bendungan di Sungai Kayan itu, paling cepat 4 tahun baru terealisasi,” urai Gubernur.
PLTA Kayan yang akan mendukung pengembangan Kawasan Industri dan Pelabuhan Internasional (KIPI) Tanah Kuning, termasuk didalamnya untuk operasional  industri alumina oleh PT Inalum (Persero) di kawasan tersebut, dicanangkan pada tahap I mampu menyediakan daya sebesar 900 MW. Irianto menargetkan untuk pembangunan PLTA tahap I bisa selesai dalam waktu 4 – 5 tahun.
“Informasinya, PT KHE telah menggelontorkan investasi yang besar untuk desain PLTA. Dan, kami meminta desainnya itu, tak tanggung-tanggung, harus memaksimalkan potensi yang ada,” tandasnya.
Hal senada disampaikan Dirut PT Inalum (Persero) Winardi Sunoto. Dia menegaskan, ketersediaan energi listrik menjadi kunci utama rencana investasinya membangun industri hilir alumina. Pasalnya, industri tersebut membutuhkan listrik yang sangat besar.
“Intinya, keberadaan dan ketersediaan energi listrik menentukan kapan mulai beroperasinya pabrik pengolahan alumina di Kaltara. Dari itu, sangat diharapkan PLTA Kayan dapat segera terealisasi,” ungkapnya singkat. (humas)

print