Siap Bangun PLTU 1000 MW, Tsingshan akan Dirikan Industri Stainless Steel

0 26

JAKARTA – Sukses mendirikan kawasan industri logam, yaitu stainless steel  dan nikel di Morowali, Sulawesi Tengah, salah satu investor dari China, yakni Tsingshan, perusahaan Iron and Steel berencana melakukan investasi di Kalimantan Utara (Kaltara).

Rencana investasi ini, dipaparkan di sela Rapat Koordinasi (Rakor) tentang pengembangan kawasan industry di Kalimantan Utara yang digelar di Kantor Kementerian Koorditor (Kemenko) Kemaritiman, Senin (17/7) kemarin.

Rencana kehadiran Tsingshan ke Kaltara, seperti disampaikan oleh Menteri Koordinator Kemaritiman Luhut B Pandjaitan, merupakan bagian dari kerjasama yang telah dilakukan antara Presiden RI Joko Widodo dengan Presiden China Xing Jinping. Di samping itu, juga melihat latar belakang Tsingshan, sebagai perusahaan Iron and Steel asal China yang sudah berhasil menbuka industri stainless steel di Morowali, Sulawesi Tengah. “Sekarang sudah berproduksi hingga 2 juta lebih stainless steel di Morowali. Perusahaan ini juga sudah memberikan pemasukan untuk Negara dari pajak dan lain-lainnya. Sehingga kami optimis, perusahaan ini mampu mengembangkan industry di daerah lain di Indonesia. Salah satunya di Kaltara yang menjadi prioritas,” kata Luhut.

Atas dukungan penuh dari pemerintah melalui kementerian dan lembaga terkait, perusahaan tersebut akan membangun kawasan industri yang terintegrasi di Kaltara. Mulai dari power plant berupa pembangkit listrik, pabrik smelter yaitu industri logam (stainless steel) hingga pelabuhannya. Pihak Tsingshan bahkan telah melakukan survei lapangan, meski baru lewat udara.

Perusahaan yang memiliki banyak industry logam, utamanya stainless steel di berbagai Negara itu, juga siap membangun pembangkit listrik tenaga uap (PLTU) dengan bahan dasar batubara yang dalam tahap pertama dibangun 1.000 megawatt (MW).

Menanggapi hal tersebut, Gubernur Kaltara Dr H Irianto Lambrie menegaskan, pada dasarnya Pemprov Kaltara sangat welcome dengan kehadiran investor.  “Kita terima siapapun investor yang akan masuk. Asalkan dia bisa bersinergi dengan investor-investor yang sebelumnya sudah masuk. Bukan mematahkan investasi yang sudah ada. Jadi yang sebelumnya berijin tetap jalan. Sama-sama jalan,” ungkap Irianto.

Disebutkan di Kawasan Industri dan Pelabuhan Internasional (KIPI) Tanah Kuning – Mangkupadi, telah disiapkan lahan 25.000 hektare sesuai dengan RTRW (rencana tata ruang dan wilayah) Kaltara. Sehingga investor bisa menggunakan lahan-lahan yang ada tersebut. “Jadi tidak masalah. Di kawasan itu lahan yang disiapkan cukup luas. Berbagai macam industri bisa masuk,” ujarnya.

Irianto juga menyatakan mendukung penuh rencana Tsingshan membangun industry terintegrasi, berikut dengan power plant berupa PLTU untuk mendukung industry pengolaan logam yang akan dibangun. “Kita sangat dukung itu (PLTU). Jadi semua jalan. Justru lebih bagus, karena PLTU ini prosesnya lebih cepat. Beda dengan PLTA yang membutuhkan waktu lama. Untuk bahan baku kita banyak, batu bara dari yang berkalori rendah hingga yang tinggi di atas 7.000 ada di Kaltara,” tuntasnya.

Terkait rencana investasi tersebut, lanjut Irianto, nanti akan ditindaklanjuti secara teknis oleh pejabat OPD (organisasi perangkat daerah) terkait di Pemprov Kaltara bersama pihak Tsingshan. (humas)

print
Leave a comment